0

ARISAN dan DRESS CODE

Tahun ajaran baru pun T’lah tiba, seperti biasa anaknya yang mau sekolah, tapi emak-emak nya yang paling heboh.

Heboh segala macem, mulai dari siapin keperluan anak, bekel sekolahnya, sampe nge’tagin tempat duduk, biar gak di sabotase orang 😂

Percaya gak, para orang tua itu rela Dateng sebelum subuh untuk naro tas di meja yang mereka pilih buat duduk anaknya. Kocag nya lagi, bahkan ada ujung tasnya yang di paku ke meja, ‘biar apa coba? katanya harga mati duduk disitu’ hahaha.. (( emak-emak kalo ada maunya jangan di lawan dah daripada dikutuk jadi batu)).. wkwkwkw

Oke back to tema, soal emak-emak arisan.

Jadi kayanya emang udah jadi hukum alam, kalo lu nganterin anak sekolah, terus ibu-ibunya itu tiba-tiba ngebikin group WhatsApp (WA) sekolah, terus pasti ada aja yang nyeletuk ” Moms kita bikin arisan yuuukksss , itung-itung nabung plus biar silaturahmi gak putus”. Naahhh kan udah ada pancingan dah tuh.

Dan emak-emak biasanya hayu aja deh tuh kalo udah ada usulan macem gitu. Padahal kan yahh, yang nyari uang para suami, harusnya hal kaya beginian, apalagi ini berurusan dengan KAS KERAJAAN wajib didiskusikan dulu sama MAHAPATI sebelum kita manggut.

Yang udah-udah sih biasanya kalo emak-emak bikin arisan, tanpa sepengetahuan suaminya, katanya sih ” ini kan ngumpulin duit sisa jajan, buat beli makeup sama baju kalo kocokan keluar”.

Hari pengocokan pun tiba, kepala suku biasanya menentukan tempat dan dress code. Temen saya yang per’ekonomiannya ngepas, sebetulnya agak keberatan dengan aturan dresscode ini. Bulan ini bajunya merah, atau temanya bunga-bunga. Atau warna Putih tali pocong ketebelece menekete. Pokonya wajib dehh, katanya kalo sampe beda sendiri udah pasti jadi sasaran empuk di batukin Mulu sama ibu-ibu yang lain.

Saya tanya,” kalo emang keberatan kenapa gak ngomong aja sih?

Jawabnya,” gak semua orang berani ngomong, dan kita juga butuh eksistensi di grup itu, kalo gak gitu anak-anak kita gak diajakin main sama anak-anak mereka” laahhh ada yang model begitu?

Kalo seandainya emak-emak itu punya prinsip kaya si teteh Aisyah (Kaka saya) mungkin dia bakalan loh jinawi.

Si teteh orangnya cuek banget, dia punya pendirian yang kuat, dan paling ogah kumpul-kumpul sambil nungguin anak-anak nya pulang. Fenomena emak-emak nungguin anak sekolah biasanya ada di tingkatan PAUD, TK dan sejenisnya.

Si teteh Biasanya cuma droop anaknya sekolah, pulang, abis itu jemput lagi. Yahh sesekali kalo ada ajakan emak-emak baru dia Dateng.

Kalo ditanya kenapa gak ikut-ikutan, jawabnya ” Males, mending gue beberes rumah, abis itu leyeh-leyeh” 😁😘

Advertisements
0

JATUH CINTA

Jatuh Cinta itu gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah Cinta, tapi susah kalau sudah jatuh.

Seperti dua insan yang dibuai asmara, maka semuanya terasa indah. Namun ketika mereka jatuh maka nestapa dirasanya.

Ku rasa kalimat Jatuh Cinta harus dikoreksi menjadi Bangun Cinta. Bangun’ menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) Adalah Bangkit, dan Berdiri. Dicontohkan sebagai anak kecil yang berlari terjatuh kemudian berdiri kembali.

Maka jangan katakan jatuh cinta, tapi Bangunlah cinta. ❤💘

Credit foto: pinterst

0

DI PAKSA MOVE ON

Beberapa waktu lalu, saya dapet kabar bahwa teman lama saya sedang dirundung duka, karna belahan jiwanya telah tiada.

Untuk memastikan kabar tersebut, benar saja, beranda Facebook beliau dipenuhi dengan ucapan bela sungkawa. Innalillahi wainnailaihi rojiuun 😢😢

Selang beberapa hari, teman saya itu memposting foto kebersamaan dengan (alm) istrinya tersebut, dengan caption rasa rindu yang mendalam. Comentar sebagai dukungan pun berhamburan. Dan keesokan harinya, beliau memposting kembali foto-foto kebersamaan, dengan caption yang tak kalah rindunya karna telah ditinggalkan.

Komentar dukunganpun kembali berhamburan, tapi dari sekian banyaknya dukungan, ada satu komentar yang menurut saya tidak pantas dilontarkan. “UDAHLAH BRO MOVE ON, JANGAN NGE”GALAU MULU, IKLASIN AJA BIAR DIA TENANG DISANA

Wahhh konyol sih menurut saya dia komen dilapak orang yang lagi berduka. Oke fine maksudnya dia baik, tapi apa pantes ngomong begitu, bisa kebaca orang pula, pertanyaan saya “APA ELU KAGAK PUNYA PERASAAN? ELU GAK BISA JAPRI AJA?”

Saya pernah ada diposisi seperti kawan saya itu, susahnya move on karna ditinggal orang yang paling berharga dalam hidup kita, rasanya amburadul, rasa berkabung yang amatlah tinggi, saya posting beberapa helai foto di FB, kemudian ada komentar nyelip bikin hati panas, “UDAHLAH BUN, MOVE ON DONG, IKLASIN AJA BIARIN DIA TENANG DISANA” baca komen begituan rasanya pengen saya maki-maki orang itu, memangnya siapa dia? boleh ngatur-ngatur hidup orang?

Ahh tapi saya urungkan, mungkin kebanyakan mecin. 😑😑

0

Sebuah Kisah Klasik

Bekasi, Subuh sebelum fajar benar-benar mendonasikan sinarnya pada sebagian semesta. Saya membuka postingan What’s up Kahfi keponakan saya.

Dia membagikan video liburan ke beberapa tempat bersama sohib-sohibnya. Pada postingan video tersebut disertai dengan back song lagu Sheila On 7 “Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan”.

Hati saya jadi rindu, masa masa usia remaja. Dimana, ketika kita mau pergi, yahh tinggal pergi aja gitu, gak perlu mikir panjang. Tentukan destinasi, siapa aja yang mau ikut serta, apa aja yang harus di bawa, yaa udah berangkat. Se-Simpel itu 😄

Untung dulu waktu masih remaja, udah cukup puas kemana-mana, dimana adrenalin masih menggebu-gebu,, pergi kemping cuma bawa uang 30.000, terus parahnya lagi niat kemping tapi ngga ada yang bawa tenda, gak bawa perlengkapan kemping. Kita cuma bawa baju ganti yang banyak, sama beras 3 gelas. Pas sampe stasiun kita baru saling bertanya.” Ehhhh BTW ini kita mau kemping kemana?” Hahahahaa 😂

“Tapi Ku sungguh bahagia”

0

TAK BANYAK CAKAP CITA CITA

Saya anak ke 11 dari 11 bersaudara ( iya udah pas banget jadi tim sepak bola) , dan terlahir dari pasangan petani yang giat sekali bekerja.

Ibu bapak tidak paham soal sekolah tinggi dan aneka ragam gelar sarjana. Yang mereka tahu, memberi sandang pangan dan pakan. Itu pun menurut kami setelah di fikir-fikir jauh sekali dari makanan yang masuk ke perut ini dari 4 sehat 5 sempurna.

Jangankan roti susu, sarapan dengan nasi hangat saja jarang sekali kami rasakan.

Bukannya tidak perduli. Tapi orang tua kami pergi bertani jauh sebelum ayam jantan berkokok.

Jadi kami tumbuh dan berkembang, dengan pencarian jati diri yang mandiri.

Bapak sosok pendiam, jarang kami anak-anaknya bisa bercakap-cakap dengan beliau. Ibuku? Ah dia memang ibu idola, walau letih sepulang dari ladang, tapi setiap malam menjelang tidur, kami berhimpitan diatas tikar sambil mendengarkan aneka rupa kisah, dan kami bahagia.

Hidup di era digital, membuka mata saya, betapa banyak anak muda yang sudah berhasil meraih impiannya. Contoh Belva dan iman Usman ( ceo dan founder Ruang Guru) jika menilik perjalanan hidup mereka yang begitu seperti roller coaster,, menempuh jalur pendidikan yang luar biasa.

Mereka bilang “ini karna dukungan besar dari orangtua kami yang begitu luar biasa”.

“Ahhh beruntung sekali mereka” gumam saya dalam hati.

Dulu jangankan ngobrolin beasiswa, mikirin cita-cita buat diri sendiri aja jauh sekali dari angan-angan. Cita-cita bagi keluarga kami seperti barang langka yang jarang kami dengar.

Sebetulnya, jika orang tua kami aware terhadap cita-cita kesebelas anak anaknya, mungkin setidaknya salahsatu dari kami ini, ada yang berhasil.

Orang tua kami tak pernah bertanya “Nak apa kelak cita-cita mu?”. Dan kami seperti anak kapal yang terombang-ambing dilautan, jika kini kami menyesali pun tak ada guna. 😑

Kini era sudah berganti, saatnya masuk fase keponakan saya yang sepertinya lesu mengejar cita-cita mereka.

Jika mereka ditanya, jawabannya limbung, seperti kapal terombang ambing di lautan, tentunya itu membuat saya khawatir. “Jangan-jangan nasib mereka seperti kami ini generasi terdahulu”

Saya mencoba memberi spirit semampunya. Memberi pemahaman bahwa banyak diluar sana mereka lahir dari keluarga kurang berada, tapi mereka memprjuangkan cita-cita mereka. Jangan mengkambing hitamkan kemiskinan. Teruslah berjuang.!!

Allah memang Maha pemberi takdir, tapi Allah sendiri yang bilang, kalo manusia bisa merubah takdirnya asalkan berusaha dengan maksimal.

Credit foto : pinterst

0

TENTANG ANAK

Repost from group WA

1. Anakmu bukanlah pilihanmu. Mereka menjadi anakmu bukan juga karena keinginan mereka, tetapi takdir Allah. (QS. 28: 68, QS. 42 : 49-50)

2. Karena apa yang Allah takdirkan untukmu, maka itulah amanah yang harus ditunaikan. (QS. 8 : 27-28)

3. Orangtua lah yang menginginkan anak. Dan keinginanmu adalah janjimu kepada Allah. Maka tepatilah janjimu karena akan Allah minta pertanggungjawabannya. (QS. 5 : 1, QS. 17 : 34, QS. 13 :19-24)

4. Allah tidak membebanimu melampaui kesanggupanmu, maka bersungguh-sungguhlah. (QS. 2 :233, QS. 64 : 16, QS. 3 : 102, QS. 22 : 78)

5. Allah tidak mewajibkanmu membentuk anakmu mahir dalam segala hal. Allah mewajibkanmu membentuknya menjadi anak shalih yang terbebas dari api neraka. (QS. 66 : 6, QS. 46 : 15)

6. Jangan berharap kebaikan dari anakmu bila tidak mendidik mereka menjadi anak yang shaleh. (QS. 11 : 46, QS. 19 : 59)

7. Janganlah berharap banyak pada anakmu jika kamu tidak mendidiknya sebagaimana mestinya. (QS. 17 : 24)

8. Didiklah anakmu sesuai fitrahnya. (QS. 30 : 30)

9. Janganlah menginginkan anakmu sebagai anak yang shalih sebelum engkau menjadi shalih lebih dahulu. (QS. 61 : 2, QS. 66 : 6)

10. Janganlah menuntut hakmu dari anakmu, sebelum engkau memberi haknya. (QS. 1 : 5)

11. Janganlah menuntut hakmu dari anakmu, sampai engkau memenuhi hak Allah atasmu. (QS. 2: 83, QS. 4 :36, QS. 6 : 151, QS. 17 : 23-24)

12. Berbuat baiklah pada anakmu, bahkan sebelum mereka dilahirkan.

13. Janganlah engkau berfikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik. (QS. 11 : 63)

14. Janganlah berhenti mendidik sampai kematian memisahkanmu. (QS. 15 : 99).

#Do’akan agar qita semua menjadi orangtua yg sholih, aamiin

@dora imelda

0

Persis Seperti Ibu nya

“Seorang remaja tanggung yang dengan teriakan dan kata-kata kasar meluncur dari mulut mungil dan wajah lugunya, siapa sangka remaja dengan paras seperti itu berkepribadian buruk”

Suatu pagi dia sedang sibuk dengan handphone nya, sepertinya dia sedang menyaksikan laman YouTube ntah tentang apa. Yang saya dengar adalah ada percakapan-percakapan seperti drama yang sedang ia tonton.

Kemudian si adik no dua, berteriak kepadanya bahwa si bontot buang air besar di celana. Dia tetap asik tanpa menggubrisnya, si adik no dua berteriak lagi meminta bantuan kalo si bontot puppy di celana.

Aral bukan main, karena kegiatan asiknya terganggu dengan hal-hal menurutnya sepele itu.

( Oia, saya adalah tetangga yang belum lama pindah ke lingkungan ini. Jadi saya tidak terlalu familiar dengan mereka ).

Si sulung berteriak sambil memaki semua adik-adiknya dengan kata-kata yang persis sering ada pada lakon sinetron sampah.

Saya fikir adik adiknya tersebut akan nangis histeris. Nyatanya, TIDAK, tebak apa? Ternyata mereka balik memaki si kakak sulung dengan makian yang tidak kalah menyeramkan. Terjadilah cekcok antara adik Kaka, yang kalo di taksir mungkin mereka sedang duduk di bangku SMP, SD dan Paud 😑

Selang berapa lama, ibu mereka pulang dengan wajah yang kurang bersahabat. Bukannya melerai dan menanyakan pokok permasalahannya apa. Si ibu ikut-ikutan memaki dan meneriaki ketiga anaknya dengan kalimat yang astaghfirullah itu kasar sekali.

Menurut kalian apa anak-anak nya itu nangis karna habis dimarahi ibunya? Nyatanya TIDAK , si sulung membela diri, si anak no dua tidak kalah pelik dengan pembelaan dirinya yang merasa benar juga. Sementara si bontot bermain-main dengan celana yang penuh dengan kotoran. 😑

” PERSIS SEPERTI IBUNYA BUKAN??”